Pagi hari saat subuh telah terlewati.
Koneksiku mati.
Aku terdiam sendiri.
Sepi.
Melatih jejak – jejak langkahku lalu yang terjerembab kelu
menari tergelak bertahtakan semu
sampai lidah hilang tersayat sembilu
rindu
menitik air mataku tercekat
dilema sebuah kegagalan harap
jikalau saja ada
indah rasanya menikmati asa
Pernah tidak kamu merasakan sedemikian hampanya ? Sampai sampai kalau boleh bersenandung kamu akan selalu meneriakkan lagunya band ungu , hatiku hampa- hatiku hampa terus menerus ?
Rasanya terlalu berlebih lebih lebihan, sayang aku sedang asyik mengulum mesra bibir bibir penuh nafsu segala gagalku. Merelakan diri asyik masyuk dalam dekapan penuh orgasme , berserakan lendir lendir lelehan sperma keringat puncak dari genjotan bertubi tubi persetubuhanku dengan kekecewaan. Ini adalah nyata adanya. Puncak segala kulminasi satu persatu rentetan sembilu semenjak hampir 3 tahun yang lalu, saat segala berusaha ditekan disimpan dicoba sekaligus dilupakan, akhirnya berakumulasi meledak dalam kehampaan nisbi . Aku terlena.
Harus memulai dari mana aku bisa menceritakan ini dan mengobrak abrik puncak segala galau dan resah ini ? Apalagi menemukan formula ampuh merumuskan butir – butir sedih dan solusinya, sedangkan sampai ketikan ini berakhirpun aku masih asyik bangga dengan aneka macam persoalan nan mendera ini, aku keenakan lelap bersama nikmatnya, kebi-ngungan aku menemukan kunci pintu keluarnya. Persoalan labirin hati memang tiada be kas , aku butuh penolong obat terpahit untuk hatiku.
Aku dipaksakan waktu untuk merangkak penuh lapar mencari sesuap nasi, sekaligus memberi umpan sehari hari buat sang anak – anak dan istri. Didalam kumbangan lumpur pilu dan kesedihanku, aku lapar dahaga dalam – dalam , seandainya saja aku memiliki teman dan kawan seiring sejalan yang bisa mengertiku, alangkah indahnya aku sejenak bersandar mengharap asaku yang sudah terlewat entah kemana. Ataukah ini godaan godaan mimpi tidur semata, yang senyatanya taklebih dari buah hasil istirahatku pagi hari, terdiam sendiri , dengan sang anak-anak dan istri. Bisakah aku mulai kejam ? Aku tidak butuh semua itu dan sama seperti ini terus – meneriakkan kekejamanku yang dilandasi kecewa nan mendalam , bahwa aku memang tidak membutuhkan semua ini ?
Entahlah !
1.Kunci rapat – rapat pintuku
2.Buang jauh – jauh anak kuncinya
3.Buka pelan – pelan dan selebar mungkin luas angkasa
4.Nikmati prosesnya dengan sepenuh hati
5.Tetapkan arah cita – cita yang hendak dituju
6.Mulai dan mulai lagi
7.Rebut semua keberhasilanku
8.Semoga. Pasti bisa !
TitO’Semarang
JuaraGan SUSU Sari Kedelai BUBUK
Merk BEE+Plus69” Mengandung BEE Pollen
http://tetitito. multiply. com/
http://beeplus69. wordpress. com
Filed under: Uncategorized